Pesan Seorang Guru tentang Mendidik Anak – Tak banyak yang tahu jika saat ini saya sedang meng-upgrade diri soal mendidik anak. Karena memang saya sendiri tak banyak share ke media sosial. Alasannya, saya masih proses belajar dan hasilnya masih saya nantikan beberapa tahun yang akan datang. Bahkan bisa jadi saya baru menikmati hasilnya saat saya sudah di alam yang lain.

Ya, saya tidak mau mengalami penyesalan yang tak berujung di kemudian hari sehingga saya berusaha belajar lebih baik. Anak bukan benda mati, namun mahkluk ciptaanNya yang diamanahkan kepada siapa saja yang dikehendaki. Jika kemudian keliru mendidik, bukankah kita juga yang kelak akan mendapatkan adzab-Nya di kemudian hari?

Mendidik anak pun ternyata bisa dibawa enjoy jika tahu metode dan cara pengaplikasiannya. Saya teringat oleh pesan seorang guru yang saat ini menjadi salah satu inspiring women saya di bidang parenting, Bu Septi P. Wulandani, bahwa mendidik anak itu sejatinya adalah main bareng, ngobrol bareng dan beraktivitas bareng.

Waktu anak, apalagi yang masih balita, itu tidak akan kembali. Sudah selayaknya menyimpan memori yang indah-indah saja pada anak. Jauhkan anak dari trauma yang nantinya akan menjadi inner child di masa depannya. Jika hal yang terjadi adalah sesuatu yang buruk, maka sedikit banyaknya akan mempengaruhi proses pendewasaannya kelak.

Dengan melakukan main, ngobrol dan beraktivitas bersama, maka anak sudah berusaha memahami kehadirannya adalah sesuatu yang sangat indah untuk dilewatkan oleh orang tua. Kita juga harus menata sedikit demi sedikit tentang fitrah yang sudah ada pada diri anak berdasarkan usianya. Karena anak yang lahir sejatinya bukanlah kertas kosong.

Anak-anak sudah membawa fitrahnya masing-masing dari yang menciptakanNya. Tugas orang tua (saya terutama), mengembangkan fitrah tersebut kepada jalan yang seharusnya. Tidak menekan sesuatu yang seharusnya dikembangkan, bahkan tidak mengembangkan sesuatu yang seharusnya ditekan.

Ah, banyak konsep parenting yang saya peroleh setelah mengikuti proses belajar sejak dua tahun terakhir. Saya bahkan sering ternganga pada hal sepele yang bisa menjadi sesuatu yang luar biasa bagi kehidupan Bu Septi dan anak-anaknya. Mencatat hal-hal penting yang dilakukannya bersama keluarga dan mencoba menerapkannya di keluarga sendiri, memang tidak mudah. Karena semua butuh proses untuk menjadi baik dan lebih baik lagi.

Semoga saya terus bertahan dalam menjaga kemuliaan anak-anak saya sampai kemudian waktunya pulang. Terus belajar memetic hal positif dari seorang guru yang selalu memposisikan dirinya juga sebagai murid ketika berada di lingkungan manapun. Ya, karena boleh jadi di tempat tertentu, posisi kita bukanlah sebagai penyampai kebaikan, melainkan penerima kebaikan.