Ragam Indikator sebagai Perempuan yang Profesional – Hmm… membaca judulnya seperti terlalu berat untuk dibahas. Apalagi jika bicara soal perempuan, makhluk yang benar-benar mulia yang diciptakan Allah dengan segala kesempurnaannya. Namun, tetap saja bahwa perempuan memang dituntut professional dalam menjalankan profesinya di muka bumi ini.

Nah, kali ini tidak akan jauh-jauh membahas indikator untuk menjadi perempuan professional. Tak perlu membicarakan perempuan lain di luar artikel ini. Saya sebagai pemilik blog ini adalah perempuan dan membutuhkan banyak pendukung untuk mewujudkan hal tersebut. Dan untuk mewujudkannya saat ini, tentu diperlukan dukungan suami serta anak sebagai orang yang selalu dekat setiap waktu di rumah. Berikut adalah indikator untuk menjadi perempuan professional a la saya pribadi:

Indikator sebagai Istri

“Ayah itu bahagia kalau Bunda seperti apa?” Tanya saya lewat WhatsApp karena suami sedang tidak di rumah.

“Cuma satu, Bunda. Nurut sama Ayah.” Suami menjawab saya dengan emoticon “cool” di akhir kalimatnya.

“Hanya itu?” Tanya saya lagi.

“Kalau Bunda memahami, kata “nurut” itu sudah mencakup semuanya dan bahasannya sangatlah luas.”

Dari jawaban suami tersebut kemudian saya menelaah bahwa sejatinya suami saya bahagia ketika apa yang disampaikannya menjadi bahan untuk saya dalam berbuat lebih baik. Saya akui bahwa saya adalah mantan wanita workaholic. Sebelum menikah, saya suka sekali beraktivitas di luar rumah. Namun, sejak ada suami kondisi tersebut berubah dan mau nggak mau saya harus mengikuti apa kata suami. Ketika saya menuruti keinginannya untuk tidak bekerja di luar rumah sampai saat ini, maka di situlah dia merasa bahagia. Bahagianya sederhana, jiwa dan raganya merasa terhargai sebagai laki-laki yang bertugas mencari nafkah untuk keluarga.

Indikator sebagai Ibu

“Salfa, pingin Bunda seperti apa?” Tanya saya pada Salfa usia 2,5 tahun yang awalnya sedikit ragu akan dijawab sebagaimana yang saya inginkan.

“Baca Bobo.” Jawabnya langsung. Singkat, padat dan membuat saya terdiam heran karena tidak menyangka ada jawaban yang (mungkin) kebetulan pas dengan pertanyaan saya.

Ya, selama ini memang saya melihat kebahagiaan tersendiri saat Salfa dibacakan majalah Bobo. Meskipun banyak yang heran (tidak jarang mencibir) kegiatan saya tersebut, apalagi jenis majalahnya bukan yang seusianya. (Bobo biasanya untuk anak minimal SD yang sudah bisa membaca). Dari situ saya kemudian berusaha untuk terus melakukan aktivitas tersebut sebagaimana keinginannya. Meskipun terkadang tantangan bagi saya pribadi ketika dalam kondisi letih dan harus melakukan hal tersebut. Saya akui sesekali saya menarik nafas panjang karena benar-benar tidak kuat untuk membaca. Bagaimana dengan ayahnya? Kenapa tidak minta tolong sama ayahnya saja? Hmm… jawaban saya, bagaimana kalau si Salfa tidak mau dan bersikeras ingin dibacakan Bundanya? 😀

Indikator Pribadi

*Menahan Amarah*

Ketika letih dan digesekkan pada hal-hal yang sangat tidak disukai, seperti mainan anak berantakan, suami lupa membuang sampah adalah hal yang paling mengganggu. Cara saya mengatasinya agar jiwa saya tetap bisa tenang dan tidak stress, adalah istighfar sebanyak-banyaknya sambil menarik nafas panjang. Hal ini kebetulan sekali baru berjalan sebulan karena terus-terang saja, mengomel atau senam mulut ternyata tidak ada manfaatnya, justru menyisakan sesak di dada yang bisa membuat saya sakit. Ketika saya sakit, malah semua pekerjaan rumah jadi tidak terurus. Saya ingin mencoba melakukan ini selama 3 bulan ke depan. Wish I can pass it kindly.

*Mengaji*

Selama ini mengaji tidak tertata dengan baik. Bisa saja jika rajin, setiap melakukan salah satu sholat, bisa berlembar-lembar. Tetapi ketika rasa malas menggoda, satu halaman pun dianggap tidak mengapa. Bahkan seringkali tidak mengaji ketika berada di luar rumah dan mendapati waktu sholat. Seperti ketika di mall, menghadiri event gathering dan lainnya. Untuk itu saya berusaha melakukan Every Praying Two Pieces of Reading Quran. Semoga 2 bulan ke depan terpenuhi (kecuali waktu menstruasi pastinya).

*Diet Karbo dari Nasi*

Saya akui saat ini berat badan saya sangat tidak proprsional. Akibatnya, saya terkadang cepat lelah ketika sudah bergerak lama. Padahal dulu tidak seperti itu. Untuk itu, saya harus berusaha menurunkan berat badan dengan diet karbo. Cukup makan nasi sekali di antara 3 waktu makan setiap hari. Misalnya, ketika sarapan makan nasi, maka makan siang dan makan malam harus mencari makanan tanpa karbo nasi. Untuk mencapai target, saya ingin melakukannya hingga 3 bulan ke depan.

Hmm… pada intinya, indikator untuk menjadi perempuan profesional sudah di depan mata. Yang terpenting dari semuanya adalah Do It, Do It, and Do It! Karena sebanyak apapun dukungan datang dari orang terdekat tetapi dalam diri tidak ada azzam untuk menjadi lebih profesional, maka sama saja dengan “0” besar.