Salfa dan Angpau Lebaran – Masih ingat dulu waktu kecil (usia SD-SMA), nenek saya di Maros, Sulawesi Selatan selalu mempersiapkan angpau lebaran untuk semua cucu-cucunya. Apalagi memang waktu kecil saya sudah tinggal di rumah nenek. Istilahnya jadi “anak nenek”.

Kalau dipikir-pikir, saya beruntung bisa tumbuh besar di rumah nenek. Penggemblengan atau didikan nenek yang “luar biasa” membuat saya menjadi tidak terombang-ambing oleh kehidupan. Duh, cie… cie… bahasanya puitis banget ya, hihi. Tetapi itu memang benar adanya.

Kalau dalam pandangan mata orang luar, apa yang diberikan (berupa pendidikan maksudnya) pada saya di rumah nenek, tentu akan muncul kata kekerasan usia dini. Tetapi, bagi saya tidak. Saya tumbuh jadi orang yang nggak mudah menyerah pada sesuatu.

Back to THR…

Tradisi dalam keluarga besar nenek, THR akan dibagikan pada saat semua anggota keluarga hadir. Harus lengkap semua cucu yang datang. Kecuali yang berada di luar pulau dan tidak bisa mudik saat itu. Masing-masing orang akan mendapatkan beda sesuai dengan prestasinya selama Ramadhan. Bahkan yang paling menentukan seberapa banyak membantu pekerjaan rumah saat H-2 dan H-1 lebaran. Jika malam takbir semua ramai menanti pawai bedug, saya dan saudara sepupu lainnya harus memastikan dapur sudah rapi dari panci setelah dipakai memasak buras dan ketupat. Semua harus sudah bersih jika ingin menyaksikan pawai bedug. Alasannya, supaya besok pagi di saat suasana silaturahim, tidak ada lagi pekerjaan berat seperti menggosok panci yang penuh arang hitam dan sebagainya. Lagipula biasanya pawai takbiran baru setelah shalat isya di masjid.

Tradisi seperti itu terus berjalan sampai pada akhirnya kakek harus berpulang. Begitupun dengan mendiang bapak saya. Beliau selalu memberi angpau lebaran yang nilainya banyak jika berhasil khatam al qur’an. Maka saya dan adik pun berlomba mendapatkan posisi yang paling banyak angpau-nya. Dan semua itu sudah tidak ada lagi saat bapak tidak lagi mampu menjalankan Ramadhan bersama kami.

Salfa dan Angpau Lebaran

Nah, kehidupan terus berjalan. Saya pun akhirnya menjalani Ramadhan dan Lebarana bersama suami dan anak. Tahun 2016 ini adalah tahun ketiga saya menjalani Ramadhan ditemani suami dan anak. Namun, perbedaan semakin terasa tahun ini karena Salfa sudah beranjak dewasa. Usia 2 tahun dengan kemampuan bicaranya yang sudah semakin jelas dan rasa ingin tahu yang tinggi, tak ada tamu yang datang tidak menggoda Salfa. Ada yang tidak tahan dengan tingkahnya yang lucu sehingga pipinya jadi sasaran hingga digendong dan diajak bicara.

Kalau satu dan dua tahun lalu Salfa tidak mendapat bagian angpau karena masih kurang dari 1 tahun usianya, kini Salfa sudah mulai mendapatkan perhatian para keluarga yang bersilaturahim (di rumah ibu mertua). Salfa sudah kebagian angpau. Jumlahnya pun lumayan untuk membeli diapers beberapa waktu ke depan, hehe. Tetapi, di tangan saya angpau lebaran yang diperoleh Salfa tidak dihabiskan melainkan ditabung dan boleh jadi akan terus bertahan sampai lebaran berikutnya. What? Apa bisa tahan selama itu? Saya sih yes, nggak tahu deh kalau mas Anang, #oppss…

Yap, selain angpau lebaran itu bukan milik saya sepenuhnya, dengan cara itu saya mengajarkan Salfa untuk pintar mengelola uang. Sekarang sudah mengerti kalau ingin membeli biskuit, susu atau jajanan lainnya harus pakai uang. Bahkan saya dan suami sempat kaget dengan celoteh Salfa saat diberi uang saat lebaran. Salfa langsung menatap saya dan ayahnya dengan menyodorkan uang tersebut sambil berkata: “Nda, uat jajan. Eli kuit” (Bunda, buat jajan. Beli biskuit.)

Begitulah kisah angpau lebaran tahun ini. Tak hanya mengajarkan Salfa berbagi duit anyar ke saudara-saudaranya, tetapi juga siap menerima dan mengelola uang yang diterimanya juga. Berapa jumlahnya? Tidak penting. Pastinya, tahun ini terima beragam amplop angpau lebaran.

Kalau tante dan om sendiri, bagi dan dapat angpau lebaran juga nggak?