Salfa dan Pisang Cavendish – Menjadi pecinta buah adalah anugerah yang tak terhingga. Selain bisa memanjakan lidah, pola hidup sehat pun selalu bertumbuh. Pun saat hamil, dokter kandungan menyarankan untuk sering mengkonsumsi buah. Karena vitamin, mineral yang dikandung oleh semua jenis buah itu diperlukan oleh tubuh.

Awal Mula Suka Pisang

Saya pun jadinya flashback ke masa kecil dulu. Mendiang Bapak selalu memberi contoh untuk konsumsi buah di pagi hari sebelum berangkat kerja. Dan buah favorit Bapak adalah Pisang. Mungkin karena Bapak dulu hidupnya di desa dan selalu menemani nenek ketika berkebun, maka Bapak menjadikan pisang sebagai buah yang paling mudah diperoleh. Pun manfaatnya banyak sekali.

Seiring berjalannya waktu, saya pun jadi suka pisang. Apalagi jika kebun nenek sudah waktunya panen, maka siap-siap di teras rumah akan bertaburan berbagai macam hasil kebun, utamanya pisang. Maka Mama juga jadi terpanggil untuk mengolah pisang tersebut menjadi panganan yang enak dan pastinya selalu dirindukan.

Ya, di kampung halaman saya, banyak sekali kue atau jajanan pasar yang dibuat dari bahan dasar pisang. Ada Barongko, Doko-Doko’ Utti, Sanggara’ Balanda dan masih banyak lagi lainnya. Dan itulah yang selalu saya cari ketika pulang.

Mengenal Pisang Cavendish Sejak Hamil

Sekarang, saya sudah punya si kecil, Salfa. Kebiasaan makan buah sejak hamil membuat Salfa pun suka dengan buah. Saat MPASI usia 6 bulan, kakak ipar kemudian memperkenalkan saya dengan Pisang Cavendish.

Karena sudah melek internet, saya pun penasaran dengan pisang jenis ini. Soalnya tetangga juga selalu menyarankan pisang jenis ini, meskipun kata mereka harganya lumayan mahal disbanding pisang biasanya.

Ternyata Pisang Cavendish adalah pisang yang dikembangbiakkan dengan kultur jaringan. Itulah sebabnya Pisang Cavendish tampak mulus dan cerah kulitnya. Karena pembiakan dengan kultur jaringan ini steril dari penyakit layu moko (disebabkan oleh Pseudomonas solanacearum) dan layu panama (disebabkan oleh Fusarium oxysporum cubense)*

Sejak saat itu saya dengan tenang memberikan MPASI dengan Pisang Cavendish. Tidak salah kakak ipar memberikan rekomendasi dan Salfa pun suka sekali hingga saat ini usianya yang tak terasa sudah 3 (tiga) tahun.

Cerita Salfa dengan Pisang Cavendish

Menuruti kebiasaan saya yang makan pisang hampir setiap pagi, membuat Salfa sering berkomentar jika stok buah habis.

“Bunda, Salfa mau pisang.”

“Kok nggak ada buah pisang?”

“Bunda, ayo beli pisang di mall.

Dan masih banyak lagi celotehnya. Sehingga hampir setiap hari pula kami menggunakan jasa GoMart untuk membantu penyediaan Pisang Cavendish. Ya, kalau lagi males banget pake bingits untuk keluar rumah, kami memberdayakan bala bantuan tersebut.

Lomba Makan Pisang Cavendish di Mall

Pernah sekali juga saya mengajak Salfa untuk ikut menonton lomba makan pisang Sunpride di salah satu supermarket ternama di Surabaya. Karena ada di dalam mall, maka Salfa pun nggak rewel. Nah, saat menanti lomba makan pisang ini, ternyata memakan waktu lama. Ada hampir satu jam kami menunggu (nggak terasa sih karena keliling supermarket juga, haha) tetapi tak kunjung ada tanda-tanda lomba makan pisang akan digelar. Maka saya pun langsung menanyakan ke SPG Sunpride yang kebetulan sedang menimbang buah pisang saat itu.

Saya: “Mbak, ini lomba makan pisang-nya kok belum ada?”

SPG Sunpride: “Oh, maaf Bu. Biasanya nanti malam baru ramai pengunjung jadi dipindahkan ke malam hari.”

Saya: “Oalah gitu toh. Saya udah sejam nungguin ternyata malem ya. Ya udah, Mbak saya beli pisangnya saja. Soalnya khawatir kalau harus nunggu sampai malam, si kecil ngantuk nanti.”

Melihat si kecil Salfa yang sudah semangat dan memakai atribut topi buah nanas Honi (kami buat sendiri), si Mbak SPG langsung berkata:

SPG Sunpride: “Bu, boleh saya foto si kecil makan pisang bersama Ibu?”

Saya: “Oh boleh, Mbak. Pisang ini ya?” Sambil menunjuk pisang Cavendish yang sudah saya sisihkan untuk ditimbang.

SPG Sunpride: “Nggak usah, Bu. Saya kasih pisang Cavendish untuk dimakan sekaligus untuk yang dibawa pulang sebagai apresiasi kreativitas Ibu dan semangat si kecil.”

Saya: “Wah, beneran nih, Mbak? Baiklah kalau begitu. Terima kasih ya, Mbak.”

 

Saya dan Salfa pun berfoto sambil makan buah pisang Cavendish. Seolah-olah saya berlomba dengan anak yang aktifnya luar biasa ini.  Dan setelah pisang Cavendish habis, kami pulang dengan membawa pisang yang dibeli sendiri plus hadiah dari Sunpride. Dengan girang Salfa berkata:

“Wah, pisangnya banyak sekali, Bunda. Asiiik!”

Ibu mana yang tak bahagia jika melihat ekspresi anaknya yang begitu kegirangan. Ah, rasanya saya tidak pernah salah mengenalkannya dengan buah. Kelak dewasa, Salfa akan tahu betapa Bundanya berusaha memberikan asupan nutrisi yang baik selama ini. Salah satunya dari pisang Cavendish yang menjadi favorit kakek, Bunda dan sekarang dirinya.

Hmm… itu sedikit kisah Salfa dengan Pisang Cavendish. Masih banyak lagi cerita seru lainnya dengan pisang Cavendish. Semoga lain waktu bisa sharing lagi di sini.