Beberapa hari sebelum memasuki usia kehamilan 3 bulan, saya dan suami saat itu masih berada di Surabaya. Posisi kami tersebut akhirnya membuat ibu mertua menghubungi agar segera pulang ke Kertosono, Nganjuk (kampung suami). Ibu mertua ingin membuat acara 3 bulanan kehamilan saya di Kertosono saja soalnya kalau ke Surabaya tidak mungkin karena memang kondisi ibu mertua yang tidak sehat (habis terkena stroke).

Akhirnya kami pun pulang. Dan senangnya bukan main karena ibuku dari Maros, Sulawesi Selatan juga bisa hadir. Jadi Selamatan Masuk Usia Kehamilan 3 Bulan jadi lebih ramai. Belum lagi saat itu ipar saya (kakak suami) sekeluarga datang dari Lombok. Memang moment-nya sedang berkumpul bersama tanpa ada satu anggota keluarga suami yang kurang (kecuali bapak mertua, yang memang sudah meninggal sejak suami masih SMA).

Selamatan masuk usia kehamilan 3 bulan pun dilaksanakan pada tanggal 2 Januari 2014. Persiapan yang dilakukan pun terbilang sederhana. Hanya membuat nasi dan kue kotak untuk dibagikan ke tetangga. Selain itu, ibu mertua memanggil sekitar 5 orang dari pengurus masjid untuk khatamkan al Qur’an di rumah. jadi mulai dari jam 7 pagi sampai sekitar jam 5 sore, mereka melantunkan ayat-ayat suci al Qur’an.

Selamatan Masuk Usia Kehamilan 3 Bulanpinjam SINI gambarnya 😀

Katanya, selamatan masuk usia kehamilan 3 bulan ini dimaksudkan untuk meminta dan memohon pada Allah agar janin di dalam kandungan saya tetap sehat, saya pun sebagai calon ibu tetap kuat. Karena pada usia memasuki 3 bulan, ruh sudah ditiupkan ke dalan janin. Dengan doa, diharapkan anak yang nantinya lahir senantiasa menjadi anak yang sholeh/sholehah…

Well, ini kali pertama lho saya melihat pengajian yang dilakukan di Jawa dalam rangka kehamilan. Katanya nanti ada acara 7 bulanan. Bagaimana pula bentuknya? Let we see next… 😀

Istilah selamatan ini dikenal dengan sebutan mitoni dalam bahasa Jawa. Memang secara agama hal ini tidak pernah dianjurkan karena masuk dalam area adat istiadat. Kalau ditanya apakah ini termasuk mengada-ada atau bagaimana (ada yang bilang musyrik…), jawaban saya begini:

Jika selamatan 3 bulanan ini diyakini untuk membawa kebaikan dan jika tidak dilakukan membawa petaka, maka ini yang masuk dalam wilayah musyrik.  Tetapi selamatan ini semata-mata hanya untuk berbagi kebahagiaan dan mengajak orang-orang sekitar ikut mendoakan kehamilan yang sedang saya jalani. Apalagi, suami saya adalah anak pertama cowok dan paling terakhir menikah dan harus menunggu 1,8 tahun baru punya anak 😀 So, wajar saja bukan? Dan kami pun tidak memaksakan kondisi. Andai tidak punya dana, kami pun tidak akan ngoyo untuk tetap melakukan selamatan ini 😀

*Mohon doanya yah semua*