Semua Anak adalah Bintang (Day 7): Jualan Celana – Siapa sangka jika anak kecil seperti Salfa kemudian bisa melakukan hal-hal di luar apa yang saya bayangkan. Tubuhnya yang masih 85 cm dengan berat yang belum pernah menginjak angka 13kg ini, membuat saya semakin yakin bahwa Allah nggak pernah salah menghadirkan di sini, di tengah kontrakan kami yang sudah semakin sempit rasanya. Terbukti pada hari ini, ada saja kelakuannya yang mengundang decak kagum, bahkan keuntungan secara finansial pada emak-nya.

Ya, hari ini itu saya dan suami sedang berbagi tugas. Saya bertugas menjaga di bagian depan (tempat dimana si ayah biasa menerima calon customer). Kemudian tibalah saat dimana saya harus menerima calon customer di siang hari (sekitar jam 2). Posisi saya saat kedatangan tamu sebenarnya saat saya sedang proses mencatat Jogger Celana Anak yang masuk per hari ini. Satu demi satu saya catat lalu kemudian terhenti saat calon pembeli undangan pernikahan tersebut datang.

Nah, saat saya proses melayani dan terjadi tanya-jawab dengan calon pembeli, Salfa mendengar calon pembeli tersebut bertanya:

“Jualan undangan pernikahan sajakah, Bu? Apakah souvenir ada?”

Saya menjawab dengan kalimat: “Untuk sementara undangan pernikaha saja. Untuk souvenir saya rekomendasikan Mbak langsung ke PGS saja. Di sana banyak macam dan jauh lebih murah. Kecuali kalau ingin yang berbahan dasar kertas, seperti notes, kami insya Allah bisa bantu.”

Saat saya selesai mengatakan hal di atas, tiba-tiba Salfa nyeletuk begini: “Tante mau beli celana kayak punya Salfa? Bunda jualan celana.” Dengan serta merta dia lari mengambil satu celana dari dalam dan diperlihatkan kepada calon pembeli. Haha… saya langsung minta maaf sama Mbak-nya karena Salfa malah jualan celana. Salfa pun akhirnya bilang: “Salfa cuma kasih tahu kok, Bunda. Kayak Bunda sama temennya lho.” 

Saya pikir Mbak-nya akan marah tetapi malah tertawa dan mengatakan bahwa Salfa cerdas. Saya sendiri kemudian akhirnya memperjelas bahwa memang saya sedang jualan online Rok Celana dan Celana Jogger. Alhamdulillah, Mbak-nya meminta brosur. 

Aaah… di satu sisi saya bahagia karena Salfa bisa melakukan promosi a la balita. Sedangkan di sisi lain, saya sebenarnya malu pada Salfa, malu akan sikap keberaniannya mempromosikan apa yang seharusnya dipromosikan. Karena jujur saja, sampai sekarang masih selalu ada rasa malu untuk berjualan. Mungkin karena basic saya tidak pernah diajari seperti itu. Alhamdulillah Salfa hadir menutupi rasa malu itu seolah memberikan pesan: “Bunda jangan malu. Kita jual barang halal. Cara jual kita pun halal. Maka untuk apa malu?” 

Salfa memang bintangku, bintang keluarga…