Sepenggal Kenangan tentang ASIku – Terlempar pada kenangan 2 tahun silam, saat Allah memberikan anugerah dan kebahagiaan hidup dalam keluarga kecil kami, Salfa Althafunnisa Santoso lahir dengan kondisi sehat dan tanpa kekurangan satu apapun.

Saat Inisiasi Menyusui Dini (IMD)

Dalam kondisi yang masih setengah sadar karena obat bius begitu mengganggu, saya membisikkan ke telinga suami agar Salfa segera IMD alias Inisiasi Menyusui Dini. Soalnya, sejak saya dipindahkan ke ruang dimana bayi dibersihkan rasanya terlalu lama. Suami pun sudah melakukan kewajibannya dengan mengumandangkan adzan di telinga si Salfa. Saya pun mulai dirundung khawatir kalau-kalau perawat yang bertugas tidak mengerti soal IMD. Bahkan dalam pikiran saya, perawat tahu tetapi (mungkin) melihat kondisi saya yang masih setengah sadar sehingga ragu membawa Salfa ke pelukan saya untuk segera IMD.

Salfa Usia 2 Hari

Salfa Usia 2 Hari

Suami pun langsung mendekati perawat dan mempertanyakan hal tersebut. Ternyata benar, perawat ragu kalau IMD bisa dilakukan sementara kondisi saya masih belum stabil benar. Tetapi, saya meyakinkan bahwa saya baik-baik saja. Obat bius yang masuk ke tubuh saya hanya mengganggu mata saya untuk terbuka lebar alias merasakan kantuk yang terus-menerus.

Salfa pun bisa IMD dan saya senang bisa melakukannya. Meskipun tidak lama, saya tetap bahagia. Entah kekuatan itu darimana datangnya karena jujur saja waktu hamil, saya selalu takut tidak akan mampu melakukan IMD dan menyusui karena ASI yang kurang banyak. Dan beragam ketakutan lain yang menghantui.

ASI Sedikit, Sufor Jadi Solusi?

Setelah berada di ruang perawatan ibu sehabis melahirkan, saya pun disuguhkan beragam makanan dan minuman penambah tenaga serta agar ASI lancar. Saya sendiri sebenarnya bahagia karena di kamar rumah sakit saya merasa bebas mengkonsumsi apapun. Tentunya yang baik untuk produksi ASI saya. Apalagi ada mama yang menjaga dan membantu saat saya memang tidak bisa melakukan sendiri. Maklum, jahitan operasi SC masih terasa ngilu dan perih ketika banyak bergerak. Apalagi jika saya ingin menggendong Salfa sambil menyusui, perut masih terasa sangat sakit.

Hingga tiba waktu pulang ke rumah, saya mengalami problema. Produksi ASI sedikit padahal saya sudah mengkonsumsi makanan dan minuman yang menurut sumber, bisa menjadi jalan untuk memperbanyak stok ASI. Ternyata tidak demikian. Tubuh Salfa menguning. Sebagai ibu baru, jelas saya panik. Tanpa pikir panjang, saya menjumpai dokter yang menangani saat Salfa lahir. Dan dari dokter tersebut saya menemukan jawaban.

Salfa menguning karena memang ASI yang diterimanya sedikit. Itu disebabkan karena golongan darah saya dan Salfa berbeda. Saya berdarah O sedang Salfa berdarah B (sama dengan golongan darah ayahnya). Perbedaan tersebut membuat asupan ASI yang diterima Salfa perlu proses yang lumayan lama untuk masuk ke dalam seluruh sel-sel tubuhnya. Istilahnya adalah adaptasi. Saya pun kemudian mempertanyakan solusinya. Dan dokter menjawab, harus terus diberi ASI. Tidak perlu menanti setiap 2 jam disusui karena memang kasusnya tidak seperti pada umumnya. Saya pun melakukan apa yang diperintahkan dokter.

Namun, perjuangan saya memberi ASI tidak semudah itu. Saya harus beradu argumen dengan ibu mertua saya soal ASI. Ibu mertua dengan lantang meminta saya untuk segera memberi susu formula saja daripada melihat Salfa menguning. Saya tetap pada pendirian tidak setuju dan memberi ASI saja pada Salfa. Karena saya percaya bahwa ASI saya cukup. Bukankah Allah menakdirkan saya menjadi ibu? Sudah tentu Allah menyiapkan stok ASI untuk anak saya. Itu yang saya pegang teguh sampai usia Salfa 2 tahun.

Saya pun berkonsultasi dengan beberapa teman blogger yang sudah melalui masa-masa menyusui. Ada satu yang saya tangkap dan paling penting untuk saya perhatikan kedepannya (setidaknya saat saya hamil lagi nanti), bahwa lingkungan yang kondusif alias mendukung ASI itu sangat penting. Sebab, stress itu tidak hanya berupa emosi amarah yang dilampiaskan, tetapi tekanan dalam diri yang datang dari orang-orang terdekat itu justru harus diminimalkan.

Yap, saat setelah melahirkan hingga satu tahun lebih usia Salfa, saya hidup di rumah mertua dan terpisah jarak dari suami. Bagaimanapun suasana kamar yang nyaman dan bersih tetapi jika hati dan pikiran tidak tenang, produksi ASI pun akan berpengaruh. Saya sempat membandingkan ketika saya tidur di rumah sakit sendirian, saya bisa memompa ASI dengan hasil yang mencengangkan. Sementara tiba di rumah mertua, tidak sebanyak sebelumnya. Benar-benar ibu menyusui membutuhkan suasana yang nyaman tanpa tekanan.

ASI hingga 2 tahun

Usia 0-6 bulan, Salfa menunjukkan bahwa tubuhnya sangat pro dengan ASI. Tubuh gemuk pun ditunjukkan Salfa. Adik ipar saya sendiri seolah menunjukkan ke ibu mertua bahwa dengan ASI, cucunya bisa tumbuh sehat seperti Salfa. Yap, memang tubuh gemuk selalu jadi faktor utama yang dinilai sebagai anak sehat. Padahal tidak semua seperti itu.

Salfa Usia 3 Bulan

Salfa Usia 3 Bulan

Bagaimana dengan kondisi Salfa saat usia 7 bulan ke atas? Saya pun kemudian diuji lagi. Usia 7 bulan Salfa sudah bisa merangkak dan duduk sendiri bahkan sudah mulai menunjukkan bahwa Salfa belajar berdiri. Perkembangan tersebut menjadikan pertumbuhan, khususnya berat badan, menurun. Ya, seiring dengan Salfa bisa ini dan itu, pertumbuhan berat badannya tidak ikut serta. Dan ini lagi-lagi jadi alasan ibu mertua kalau saya harus memberikan asupan susu formula pada Salfa. Sebab, ASI eksklusif sudah dijalankan, tidak ada salahnya mengimbangi dengan susu formula.

“Kamu kok tega lihat anakmu seperti itu. Berat badannya turun artinya kurang gizi.” Ucap ibu mertua yang masih terngiang terus sampai sekarang.

Tetapi, saya pun ngeyel dan terus memberi ASI. Hanya saja, saya memperhatikan asupan MPASI. Saya memilih makanan-makanan bergizi tentunya dan yang disarankan oleh dokter. Apakah itu berjalan mulus seperti jalan tol Mandara di Bali? Oh, tentu tidak. Ada-ada saja tantangan baru setiap kali berurusan dengan asupan terbaik buat Salfa.

ASI Dulu, ASI Kini, ASI Nanti

Prinsip saya benar-benar kuat bahwa setiap bayi yang lahir pasti ada ASI yang disediakan untuknya. Oleh karena itu dibutuhkan peran dan dukungan oleh suami, keluarga (baik dari pihak istri maupun suami) dan lingkungan sekitar agar tetap menjadikan ASI sebagai prioritas bagi bayi, khususnya usia 0-6 bulan. Di atas usia tersebut ASI pun juga masih berperan penting, tetapi perlu ditambah dengan asupan nutrisi lainnya. Mengingat perkembangan otak anak akan mencapai puncaknya pada usia 3 tahun.

Golden age menjadi masa-masa penting yang harus diperhatikan oleh orang tua, khususnya ibu. Sebab masa ini tidak akan terulang lagi. Teorinya memang mudah, prakteknya yang benar-benar membutuhkan kesabaran yang ekstra.

Hari Terakhir Salfa Minum ASI

Hari Terakhir Salfa Minum ASI, tepat Usia 2 Tahun

Saya sangat bersyukur, hingga usia Salfa 2 tahun, ASI tidak pernah lepas darinya. Bahkan saat proses lepas dari ASI yang saya pikir adalah masa yang menegangkan dan menakutkan, ternyata realitanya tidak seperti itu. Salfa lepas dari ASI sangat mudah. Hanya ada 3 hari melihat Salfa sulit tidur di malam hari karena mencari tempatnya meminum ASI. Setelah itu, Salfa benar-benar lupa dan lepas dari ASI.

Saya sangat bersyukur bisa melalui proses menyusui dengan segala macam kisah dibaliknya. Suatu saat akan jadi bahan cerita juga untuk Salfa dan motivasi ketika Salfa akan punya adik lagi. Boleh jadi, Salfa kelak bisa berada di barisan yang keep fighting terhadap pemberian ASI. Iya kan, Nduk?   

Salfa dan Ayah ASI

Salfa dan Ayah ASI

Dan ketika Pekan ASI Dunia diperingati, saya menjadi salah satu ibu yang tersenyum puas karena bisa ikut merasakan bagaimana perjuangan memberikan ASI. Lulus pemberian ASI hingga 2 tahun dan jika diibaratkan jenjang akademik, maka saya adalah lulusan S3 ASI.

Poster Giveaway Pekan ASI Dunia