Think Creative – Day 06: Cetakan Es Krim dan Kacamata Kuda – Hari ini saya sedang tidak enak badan. Kepala pusing dan selalu ingin muntah. Maka kemudian saya hanya banyak berbaring. Tetapi bukan berarti bahwa Salfa ikut diam karena Bundanya sakit. Justru tetap saja ada tingkahnya yang dibuat. Bener-bener anak yang tidak bisa diam.

Kemudian sambil berbaring saya memperhatikan apa saja yang dibuatnya. Takut jika kemudian Salfa memegang benda yang tidak seharusnya. Namun beruntung karena Salfa selalu bertanya jika menemukan atau melihat sesuatu yang baru sebelum kemudian memegangnya lebih lama. Dan seperti hari ini, ada ide sederhana yang diperlihatkan saat bermain seolah-olah jadi tukang es krim.

“Es kriiim… es kriiim… dibeli… dibeli… ” suaranya menggelegar memanggil pembeli yang tidak lain saya, ayahnya dan pastinya bonekanya juga.

Tetapi karena ayahnya masih mengerjakan orderan perlengkapan umroh dan saya pun berbaring, maka dialog-nya pun dilakukan sendiri. Memang sudah pandai untuk melakukan acting drama percakapan hingga terdengar adegan sedih pun sudah bisa. Karena letih, Salfa pun ikut berbaring di sampingku.

“Bunda sakitnya jangan lama-lama. Kan tadi sudah disuntik Salfa.”

“Iya, makanya Salfa juga yang bagus kalau main supaya Bunda bisa istirahat ya.”

“Iya.”

“Yuk sekalian tidur siang.”

“Belum ngantuk. Salfa masih mau main ini.” sambil menunjuk cetakan es krim.

“Nanti kalau tidak tidur siang kepalanya pusing lagi.”

“Main aja dulu, Nda.”

“Oke.”

Saya pun membiarkannya berbaring di samping saya. Mulutnya terus berceloteh. Lalu dia berkata:

“Bunda lihat nih, stik es krim-nya jadi kacamata kuda.”

“Lho kok bisa?”

“Ini lihat, Nda.” menunjukkan posisi cetakan es krim yang menutupi kedua matanya.

“Haha… ada saja, Fa.”

“Iya kacamata kudanya warna ijo. Lucu ya, Nda.”

“Iya.”

***

Lagi-lagi ada saja yang muncul di kepalanya. Diminta tidur siang malah berimajinasi. Ah, namanya juga anak-anak…