Think Creative – Day 08: Es Krim Scoop – Hari ini terasa berat rasanya. Kepala mau pecah saking sakitnya. Mata pun seperti memberikan koordinasi agar lebih baik tertutup saja daripada melihat sekeliling. Namun, saya tidak bisa terlena dengan sakit ini karena ada anak balita yang selalu meminta perhatian penuh. Meskipun saat ini sudah pandai bermain sendiri tanpa didampingi, tetap saja Salfa masih anak balita usia jelang 4 tahun yang membutuhkan sosok ibu dan ayah.

Karena lagi-lagi drop, saya pun mencoba mengajak Salfa untuk bermain es krim saja. Kalau biasanya menggunakan stik es krim berwarna yang banyak dijual di luar sana, kali ini hanya dari kertas undangan bekas. Ya, di rumah kami memang sering terlihat tumpukan kertas yang tidak lain adalah sisa undangan pernikahan yang diorder oleh klien.

Kami memang bukan dari keluarga yang sangat berada, di saat ingin semua bisa kami dapatkan dengan mudah hanya mengeluarkan lembaran rupiah. Untuk itu sebisa mungkin memanfaatkan dan memaksimalkan apa yang ada. Salah satunya dengan sisa kertas undangan saya buat menyerupai es krim scoop. Tadinya Salfa tidak tertarik karena toh awalnya kertas yang saya gunakan hanya yang berwarna plain saja. Tetapi saya berusaha mencari yang berwarna dan berbunga. Alhamdulillah Salfa senang bahkan mempraktekkan layaknya seorang penjual es krim

“Es krim-nya Bu, Pak. 500-an saja.” ujarnya.

***

Sederhana memang kebahagiaan kami hari ini. Sesuatu yang jadi sampah sebagian orang bisa jadi mainan si kecil di saat saya masih drop.