Think Creative – Day 3: Belajar Huruf dan Bantal Cinta – Jika kemarin Salfa bermain angka bersama ayahnya dengan menggunakan kalkulator, maka hari ini ada hal yang membuat saya tercengang. Daya kreativitas anak usia 3,5 tahun memang ngeri-ngeri sedap karena segala sesuatu di lingkungannya menjadi media untuk bereksplorasi lebih dan lebih.

Demikian pula Salfa yang selalu menunjukkan hal-hal unik meskipun saya tahu itu hal biasa di mata orang lain. Tetapi, bagi saya ibunya, hal sekecil apapun yang dilakukan Salfa adalah media bagi saya untuk ikut belajar juga bagaimana memahami jiwanya. Meskipun saya sadar betul seringkali keliru bahkan “sok pintar” dalam menginterpretasi pola pikir anak balita.

Seperti yang terjadi sore ini sepulang dari menemani saya ikut Beauty Talk with Blogger yang tidak jauh dari rumah. Salfa dengan wajah letihnya masih saja mengatakan:

“Bunda, Salfa capek tapi masih mau main.”

“Salfa tidur saja dulu, ya.”

“Habis tidur, main?”

“Iya.”

Maka jadilah Salfa tidur kurang lebih satu jam lalu terbangun karena adzan berkumandang. Bangun tidur langsung bergerak seperti biasa, tidak bisa diam dan segala yang di lihatnya jadi mainan. Tidak terkecuali bantal cinta yang kami punya. Ada dua buah.

“Bunda, ini huruf apa hayo?” tanyanya dengan semangat dimana di hadapannya sudah ada dua bantal cinta yang diletakkan menyerupai sebuah huruf.

“Huruf apa itu, Fa?”

“Huruf A lho, Nda.” jawabnya dengan girang karena saya tidak tahu sehingga membuatnya “merasa menang”.

“Wah itu huruf A ya, Fa?”

“Iya.”

“Bisa ya bantal dibuat huruf?”

“Bisa, Bunda. Ini huruf apa, Nda?” mengubah posisi bantal menyerupai huruf lagi. Saya pun berpura-pura tidak tahu.

“Ini apa ya? Salfa tahu?”

“Ini huruf I, Nda.”

“Yeay, huruf I.”

Begitulah seterusnya hingga anak aktif yang tidak bisa diam ini pun lelah dan berganti permainan. Namanya anak usia 3,5 tahun, yaa fokusnya pun hanya sekitara 3,5 menit saja. Tetapi tidak mengapa, setidaknya Salfa sudah berusaha menunjukkan kalau otaknya bekerja dan think creative. Sederhana namun tetap saja hebat di mata kami orang tuanya.

Besok, Salfa punya kreativitas apa lagi ya?