Senangnya jika kembali bisa menulis bebas lepas tanpa terikat brief dan juga anchor text yang memusingkan, haha. Apalagi kalau sekarang menuliskan tentang “toko buku”. Sebuah tempat yang seluruh dunia tahu bahwa siapapun akan dimanjakan dengan berbagai deretan buku yang tersusun rapi dalam rak.

Sebagai orang yang senang membaca buku, tentunya toko buku menjadi tempat paling menyenangkan selain café dan spot-spot untuk photo hunting. Mengapa? Karena di toko buku, saya bisa merasakan aroma kertas yang sangat-sangat menggoda selera untuk membaca halaman demi halaman. Bahkan sebelum saya tahu adab ke toko buku, saya selalu berada berjam-jam membaca buku yang kemasan plastiknya sudah terbuka.

Tetapi, setelah tahu bahwa membaca halaman buku di toko buku tetapi belum membeli itu sama dengan mencuri isinya, maka saya menghentikan kebiasaan tersebut. Memang sih, menurut sebagian orang itu tidak apa-apa. Bahkan menyalahkan karyawan toko buku karena tidak memberikan peringatan untuk tidak membaca di dalam toko buku atau memperbaiki buku yang kemasannya sudah terbuka.

Saya tetaplah saya. Prinsip yang saya pegang untuk tidak membaca keseluruhan isi buku sebelum membeli di dalam toko buku pun lama-lama menjadi kebiasaan. Kalau pun terpaksa saya baca, itu hanya bagian sinopsis yang sudah ada di sampul belakang buku. Dan kebiasaan ini pun saya terapkan kepada anak saya yang saat ini masih balita.

Nah, kali ini juga saya mau cerita bagaimana tips mengajak anak berkunjung ke toko buku tanpa harus kehilangan banyak angka dari kartu debit. Apalagi mengakibatkan anak tantrum nggak jelas di dalam toko buku. Selain merasakan risih, tentunya anak tantrum di tengah keramaian atau tempat umum pasti membuat kita juga jadi tidak nyaman mencari buku yang diinginkan, bukan?

Berikut cara saya:

#1. Sounding Sehari Sebelum ke Toko Buku

Sejak belajar parenting, saya jadi banyak belajar untuk melakukan sounding dengan Komunikasi Produktif kepada anak. Paling lambat sehari sebelum melakukannya dalam hal ini adalah berkunjung ke toko buku. Soalnya di toko buku akan selalu ada hal menarik perhatian si kecil. Baik itu dari segi buku sendiri hingga pernak-pernik lucu.

Saya saja yang sudah bukan anak-anak lagi memang suka dengan pernak-pernik lucu, apalagi anak-anak. Untuk itu perlu sounding jauh-jauh hari.

#2. Menentukan Jenis Buku dari Rumah

Sebelum ke toko buku, anak diajak diskusi soal buku yang akan dibeli.

“Kan masih balita, Mba. Kok sudah diajak diskusi?”

Duh, jangan salah. Anak balita justru tempat diskusi paling mengasah kemampuan kita dalam berpikir bahkan menentukan sebuah keputusan. Karena dari mulut-mulut mereka muncul diskusi yang terkadang membuat hati terenyuh, tertawa bahkan tidak jarang membuat kita harus menahan amarah, haha.

Namanya juga anak-anak. Pasti punya pendapat sendiri soal apa yang akan dibeli di toko buku. Jadikan momen itu sebagai sesuatu yang berharga.

#3. Tegas Sesuai Perjanjian Awal

Biasanya anak-anak akan berubah pendirian ketika sudah berada di toko buku. Hmm… terkadang kita saja suka begitu kok. Dari awal mau beli satu buku malah di keranjang belanjaan berderet lebih dari dua buku, haha.

Nah, untuk memberikan pendidikan kepada anak tentang pendirian dan menepati kesepakatan, maka jangan pernah berubah dari perjanjian awal. Kalau beli bukunya dua ya dua. Jangan ditambah atau dikurangi.

Anak nangis? Pastinya akan seperti itu meskipun tidak semua anak. Tetap tegas dan sampaikan dengan baik kalau perjanjian itu harus ditepati. Kalau ingin mengubah perjanjian, dilakukan lagi di rumah untuk kunjungan ke toko buku selanjutnya.

***

Itulah tips mengajak anak berkunjung ke toko buku yang selama ini membuat saya nyaman meskipun berlama-lama di dalam toko buku. Karena terkadang saya lama berada di toko buku hanya karena berjalan menikmati aroma buku dari satu rak ke rak lainnya.

Opini tentang Toko Buku Saat Ini

Beruntung karena di kota tempat saya tinggal, toko buku sangat mudah dijangkau. Bahkan bisa menggunakan jasa titip beli online jika tak sempat ke toko buku karena sibuk mengurus rumah, pekerjaan sebagai blogger dan lainnya.

Hanya saja, saya masih sering sedih melihat tingkah pengunjung yang membawa anak ke toko buku tetapi tidak memperlihatkan adab yang baik. Manjat-manjat di rak buku, membaca tuntas buku yang tidak dibeli bahkan pernah saya menyaksikan kemasan plastik buku sengaja disobek untuk melihat isi dalam buku.

Belum lagi kalau anaknya membuat kegaduhan yang menyesakkan telinga di salah satu sudut toko buku. Rasanya ingin bicara dengan orang tuanya untuk menghormati pengunjung lain, haha. Soalnya benar-benar bisa membuat rasa tak nyaman dalam toko buku.

Kemudian, saya juga menjadi miris karena banyak buku yang dijual dengan harga tinggi tetapi sangat mudah didapati versi bajakannya. Di situ saya merasakan betapa kurangnya menghargai jerih payah penulis dan penerbit dalam menyediakan buku hingga sampai ke toko buku.

Untuk itu, toko buku memang harus berbenah dalam hal harga dan juga pelayanan. Apalagi jika posisinya di mall. Jangan sampai pengunjung mall hanya sekian persen saja yang mampir karena merasa tidak menarik apalagi jika harganya mahal.

***

Well… sudahkah bulan ini ke toko buku? Buku apa yang Sobat Istana Cinta baca bulan ini?