Tips Tetap Semangat Menjadi Fasilitator – Jika kemudian ada yang menganggap menjadi facilitator itu keren bin bisa menjaga gengsi, maka saya mungkin orang pertama yang akan bilang: “Anda tidak sepenuhnya benar dengan anggapan seperti itu.” Karena toh buktinya, menjadi fasilitator ternyata membutuhkan effort yang tidak sedikit. Apalagi pada jenjang Bunda Sayang.

Mengapa saya katakan demikian? Karena yang menjadi fasilitator itu adalah “manusia” juga yang memiliki rasa, asa dan kepentingan setiap hari. Bisa dibayangkan waktu yang mereka luangkan untuk mengelola puluhan kepala agar memahami apa yang menjadi tujuan mereka kuliah di IIP. Sungguh bukan pekerjaan sekali share materi, game/tantangan, memberikan badge lalu kemudian selesai. Oh tidak sesederhana itu.

Menjadi fasilitator berarti siap menerima banyak hal dari puluhan orang tersebut. Suka, duka bahkan dibuat “sedikit riweuh” dengan permasalahan yang mereka hadapi adalah sekian persen yang harus menjadi fokus pencarian solusi. Memang sih peserta kuliah sudah dewasa semua, namun tetap saja mereka akan menjadi seseorang yang membutuhkan masukan, bantuan, informasi bahkan sekadar perhatian agar tetap semangat menjadi peserta kuliah Bunda Sayang IIP.

 

Jika ingat games 3 dimana saya yang banyak belajar soal toilet training. Dan sebelum memasuki game 4 ternyata muncul lagi beberapa hal yang menjadi fokus perhatian, peserta yang selama 3x berturut-turut tak mendapatkan badge harus left dari grup perkuliahan. 

Baca: Mengambil Pelajaran tentang Kemandirian Anak

Memberikan Kesempatan Sekali Lagi

Saya mungkin adalah salah satu fasilitator yang dianggap tegas tetapi juga penyayang (ecieee…). Tegasnya adalah sekalipun peserta itu sudah mengumpulkan 10 tantangan tetapi lewat dari DL, maka tidak akan ada kompensasi yang diberikan. Bayangkan waktu diberikan ada 17 hari, kemudian laporan baru dikirim pas DL, saya jadi berpikir selama 16 hari itu ngapain aja coba? Belum lagi yang mengirimnya lewat sehari dari DL. Benar-benar saya ingin garuk tembok ketika melihat yang seperti itu.

Nah, kebijakan dari Tim Bunda Sayang Batch #3 yang mengatakan bahwa yang tidak mendapatkan badge 3x berturut-turut harus left dari grup kemudian saya terjemahkan dengan sifat penyayang saya. Jadi, bagi yang tidak memperoleh badge selama 3x berturut-turut tetapi masih memiliki effort dalam mengerjakan (berusaha mengerjakan selama 10 hari tetapi tidak selesai selama 3x games), maka saya memberikan kesempatan satu kali lagi di game 4. Mereka yang termasuk di dalam kategori ini harus benar-benar menjaga kebijakan saya untuk dipergunakan dengan sebaik mungkin. Karena setelah game 4 berakhir lalu hasilnya tetap tidak mendapatkan badge, maka sorry to say, I have to remove everyone for this case. 

Apakah ini tidak melanggar kode etik saya sebagai fasilitator? Insya Allah selama tidak merugikan institusi, insya Allah tidak akan terjadi apa-apa. Karena toh buktinya beberapa memang beralasan sedang berada dalam kondisi yang sulit untuk menggenapkan 10 hari dalam game tersebut. Saya harap mereka semua memahami maksud dan tujuan saya melakukan seperti ini. Meskipun banyak di antara mereka yang sudah ijin cuti, undur diri bahkan remidi sebelum saya memberikan keputusan tersebut.

Lelah banget ya jadi Fasil? Ada yang merasakan hal demikian? Ayo ngacung! Hehe…

Sebenarnya saya ada beberapa tips tetap semangat menjadi fasilitator yang mungkin bisa jadi sedikit penawar hati yang sedang keletihan. Berikut tips-nya:

  • Perbaiki Niat Kembali; coba diingat lagi saat melakukan “klik daftar jadi fasilitator” dulu, niatnya seperti apa? Jika sedikit bergeser, silakan diperbaharui. Namun, niat karena ingin terus belajar sembari memudahkan urusan orang lain (baca: peserta kuliah), insya Allah akan menjadi pahala. Asalkan dilakukan dengan ikhlas, bukan?
  • Sharing dengan Sesama Fasilitator; mungkin ada kasus dalam kelas kita yang sedikit membingungkan, maka coba sharing dengan sesama fasilitator. Bisa jadi ada kasus serupa juga di kelas mereka. Atau paling tidak, kita sejenak memindahkan sedikit kasus untuk kemudian dipikir solusinya bersama.
  • Main dengan Anak; fasilitator yang jenuh bisa coba sejenak menanggalkan ponsel dan laptop lalu bermain dengan anak. Insya Allah otak akan segar kembali karena memasuki dunia anak yang tanpa beban apa-apa sama sekali. Bagaimana jika yang belum punya anak? Ada adik atau sodara.
  • Minta Support Suami; mungkin dengan sedikit berdiskusi dengan suami, akan ada sedikit pencerahan. Bisa jadi suami justru yang membantu solusi dari kasus yang dialami oleh peserta di kelas yang kita menjadi fasil di dalamnya.
  • Me Timesejenak makan es krim, minum air putih atau jalan-jalan di sekitaran rumah itu bisa sedikit menyegarkan raga dan pikiran kita. Lagipula, waktu kita membersamai peserta pun tidak seharian full, bukan?
  • Harapan Amal Jariyah; jika harapan kita menjadi fasilitator adalah untuk memupuk amal jariyah, insya Allah tidak akan ada namanya tidak semangat, jenuh atau apalah namanya. Karena semua akan berjalan baik-baik saja. Jika ada halangan atau rintangan, bukankah di IIP ada rumusnya? No Problem, But Challenge. Semakin kita mendapatkan banyak rintangan, maka semakin kuat raga dan pikiran kita ke depannya.

Baca: Be A Facilitator, not an Interviewee

Well… kelas Sumatera 1 Bunda Sayang Batch #3 memang sudah beberapa yang mengajukan cuti, mengundurkan diri bahkan remedial. Namun, saya juga berhasil menahan beberapa orang untuk tetap melanjutkan kuliah. Sebab sayang sekali waktu yang terbuang jika harus menunggu beberapa bulan lagi untuk bergabung di Bunda Sayang Batch #4. Karena usia tidak ada yang menjamin. Kegigihan terus belajar sebelum maut datang menjemput, insya Allah akan dinilai pahala oleh Allah, asalkan niatnya benar-benar lurus dan tulus.

Bagaimana dengan diri saya? Saya pun mengubah sedikit metode diskusi dengan mengajak mereka yang jauh lebih aktif dibandingkan saya. Hasilnya? Ternyata banyak ide, opini dan saran yang sangat membantu peserta lainnya. That’s why I love to make trial and error. Karena setiap kejenuhan bisa disiasati.

Untuk teman-teman fasil, bismillah kita pegang tangan satu sama lain, yuk. Hari esok akan lebih indah ketika setiap penat kita diganjar pahala yang semakin berat di akhirat kelak.