Tip Mengajari Anak Mandiri Sejak Dini

beberapa tip mengajari anak mandiri sejak dini

Mandiri Sejak Dini. Kalimat pendek yang semua orang tahu pasti ingin anak-anak mereka berada di fase ini. Orang tua tidak akan bingung meninggalkan anak sendiri di rumah, sekolah atau di tempat lain karena sudah terbiasa membawa dirinya agar bergerak atau hidup tanpa menggantung apa saja pada orang lain.

Saya sudah melakukannya selama nyaris satu tahun ini. Bermula dari harusnya saya melahirkan di kampung halaman suami, maka otomatis anak pertama yang usianya 8 tahun saat ini harus menerima dan menjalani hidup mandiri di kota domisili. Drama memang pada awalnya. Anak nangis, bolak-balik telpon atau video call bahkan aplikasi chat pesan (baca: WhatsApp) selalu didominasi oleh si anak pertama saya ini.

beberapa tip mengajari anak mandiri sejak dini

Bosan dan kadang jengkel adalah perasaan yang seringkali menghantui ketika seolah “diteror” anak dengan panggilan telepon plus chat WA yang bejibun. Namun, saya kembali tersadar bahwa seperti itulah proses yang harus diterimanya. Saya juga tidak boleh terus-menerus memupuk rasa bosan karena anak tersebut membutuhkan proses adaptasi dan pengertian. Bahkan perasaan tidak diperhatikan karena kehadiran adik baru pun harus dikikis pelan-pelan.

Cara Ajak Anak untuk Mandiri Sejak Dini

Berikut beberapa langkah yang saya lakukan:

Belikan Buku Kemandirian

Kalau orang tua di luar sana mungkin langkah pertama yang dilakukan adalah mengajak ngobrol. Namun, kondisi saya yang jauh jadinya belikan buku dan memperlihatkan artikel-artikel kemandirian. Mandiri artinya lebih mampu mengurusi diri sendiri sehingga tidak mempersulit orang di sekitarnya.

Minta Ayahnya Selalu Jadi Pendengar Setia

Saya memang akhirnya LDM ketika melahirkan di kampung. Suami harus kerja dan menjadi teman anak saya. Otomatis tanggung jawab saya untuk memahamkan bahwa semua harus dilakukan sendiri adalah tugas suami. Nah, anak pertama saya pun akhirnya menjadi lebih sering cerita ke ayahnya tentang apa pun di sekolah, di rumah atau di tempat ngaji. Suami harus menjadi pendengar setia agar kesedihan harus jauh dari saya, bundanya, pun tersalurkan pada hal positif.

Selalu Menyelipkan Emoticon Kebanggaan karena Si Anak Bisa Mandiri

Saat anak menceritakan bahwa dia bisa mengerjakan PR sendiri, cuci piring sendiri, dan apa saja yang dilakukan secara mandiri, tidak lupa saya menyelipkan emoticon bangga, suka atau semacamnya. Hal ini bisa memberikan semangat dan apresiasi karena si anak bisa terus berusaha. Nyaris setahun tanpa saya di sampingnya bukan hal mudah.

Menceritakan Kisah-Kisah Kemandirian yang Berakhir Sukses dan Bahagia

Banyak tokoh yang sukses karena terkenal gigihnya usaha untuk terus maju meski tanpa bantuan orang lain. Kemandirian seperti ini harapannya bisa menjadi inspirasi si anak agar tidak mau berhenti menjadi anak mandiri.

***

Well, pastikan bahwa kemandirian yang ditanamkan juga dipraktikkan kita selaku orang tuanya. Anak mencari teladan dan tentunya orang pertama yang dilihat adalah orang tuanya. Jangan berharap anak mandiri sementara tidak pernah ada contoh demikian.

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You May Also Like
Mendekatkan Salfa dengan Buku
Read More

Mendekatkan Salfa dengan Buku

Alhamdulillah… senang rasanya melihat perkembangan demi perkembangan pada diri Salfa. Meskipun usia belum di angka 9 bulan, kelincahannya…