Reparenting Inner Child: Ketika Anak Jadi Pelampiasan Kecewa – Baca judulnya pasti langsung deh pembaca menghakimi pastinya. Padahal harusnya bertanya dan memikirkan kira-kira alasan sehingga judul di atas muncul. 

Saya sendiri sebagai orang yang menjadi subjek memang berpikir beberapa kali sebelum menuliskannya. Namun, saya percaya bahwa keberadaan tulisan ini sebagai bentuk self healing agar tidak terulang. Kelak anak akan membaca bahwa seperti inilah bundanya menepis dan menyembuhkan diri dari pergulatan masa kecil tak bahagia yang berdampak sampai kini. 

Anak-anak saya harap tidak ada yang membenci karena perlakuan yang diterima. Meskipun sebagai bunda sadar bahwa tidak setiap hari melakukan hal tak menyenangkan bagi mereka.  Saya juga sadar bahwa kehadiran mereka justru jadi pelampiasan untuk meminta maaf di tengah luka yang ada.

Saya percaya sejauh ini. Melangkah untuk sembuh. Tertawa seolah tak terjadi apa-apa. Padahal di dalam batin menangis bahkan murka sejadinya. Anak-anak memang beberapa kali menjadi pelampiasan. Ketika cita-cita seolah terhalang dengan kehadiran mereka. Belum berdamai dengan kenyataan tak bisa bekerja di ranah publik karena takut mereka terlantar bahkan diculik manusia tak bertanggung jawab.

Anak-anak memahami kalau bunda marah pasti karena lelah atau mereka lupa membereskan mainan. Bahkan, gelas atau piring tak berada di tempatnya setelah selesai digunakan pun pemicunya. Mereka sadar, mereka keliru menjadi pemantik kemarahan. Meskipun sering terulang dan akhirnya maaf itu terucap kembali.

Ketika anak-anak jadi pelampiasan, persis dengan yang terjadi ketika usia bundanya sama seperti mereka. Diamuk jiwa muda yang masih bergejolak tapi terbelenggu ikatan hubungan dan kerangkeng bernama rumah tangga. Saat itu, karir jadi abu. Berkutat di dapur jadi aktivitas yang selalu diburu.

reparenting inner child

Mencoba Reparenting Inner Child 

Mengenal Mba Intan dan orang-orang yang bekerja sama dalam memulihkan saya, tentunya membuat diri ini harus berterima kasih banyak. Dalam reparenting inner child, saya diminta untuk menyadari bahwa masa kini bukanlah untuk mengenang masa lalu, apalagi sad inner child. Saya harus merangkul “Amma Kecil” yang duduk terdiam dan matanya basah dengan air mata. Bahkan terasa sekali dendam itu masih ada bersemanyam di hati bahkan seluruh tubuhnya.

Saya harus mengatakan: “Hei, Amma Kecil. Berhenti menangis. Ini bukan salahmu. Maafkan aku ya, si Amma Besar jika selama ini memanfaatkanmu untuk membenci siapa saja di masa lalu.”

Berat. Kerongkongan seperti tercekat batu kedondong. Entah mengapa sulit mengatakannya dengan tulus. Butuh diucapkan berulang-ulang hingga terkadang si Amma Kecil sudah tak tampak lagi.

Ya, reparenting inner child memang dilakukan dengan cara:

Minta Maaf

Seperti yang sudah saya sebutkan di atas. Memaafkan memang kunci semuanya menjadi lebih mudah. Namun, tidak pernah mudah untuk melakukannya apalagi jika tidak diikuti dengan kesadaran.

Katakan Aku Cinta Kamu

Memang ketika mengatakan ini aku sedikit terbata. Mudah mengatakan ke pasangan tetapi tidak dengan si Amma Kecil. Entahlah, seperti ada penyesalan tetapi kasihan juga. Namun, pelan-pelan kemudian rasanya sedikit berbeda dengan mengatakan I Love You pada diri yang kecil di masa lalu.

Berterima Kasih

Berterima kasih karena sudah melalui banyak hal bahkan hingga dewasa seperti ini. Nah, harapannya si Amma Kecil tetap merasa dihargai keberadaannya karena ucapan ini sepele tetapi sangat bermakna.

***

Well, saya masih terus membuat diri menjalani reparentin inner child agar tidak melahirkan generasi yang sama dengan diri ini. Bakalan rugi di masa depan ketika anak-anak saya mengalami hal serupa seperti ini. Mereka harus bahagia dan berdamai dengan apapun semesta katakan.