Terkadang membawa anak bepergian itu sesuatu yang menyenangkan. Namun, tidak semua anak pun mau dan suka dengan aktivitas tersebut. Nah, jika ada anak yang kemudian merasakan ketakutan ketika diajak bepergian dan menjadikannya demam seharian, itu perlu dipikirkan.
Setidaknya ibu harus tahu bagaimana tips dan trik agar anak tidak demikian. Sebab, tidak selamanya bepergia itu bisa memberikan kesempatan kepada kita untuk berangkat lengkap sekeluarga. Kadang cuma si bapak sendirian atau kadang ibu dan harus membawa cuma satu anak misalnya.
Nah, kebetulan hari Sabtu kemarin anak saya yang memperlihatkan ketakutan luar biasa ketika saya ajak keluar kota bersama teman-teman. Awalnya biasa saja meski memang tidak mau menerima uluran tangan teman saya untuk bersalaman.
Pikir saya, mungkin karena masih 2.5 tahun jadinya memang masih malu-malu. Ternyata saya dibuat kaget karena menjelang tengah hari, setelah makan siang, si anak mulai menunjukkan gelagat tidak nyaman. Suhu tubuhnya mulai meningkat dan tidak mau lagi duduk di stroller. Mintanya digendong terus meski memang akhirnya tertidur.
Saya pun mulai melontarkan beberapa percakapan dengan si anak:
“Kok tiba-tiba panas Dek? Ada apa?”
Respon anak saya cuma memandangan dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca. Saya pun makin panik rasanya tetapi tetap berusaha tenang karena tidak ingin membuat teman-teman seperjalanan itu juga ikutan pusing memikirkan.
Setelah turun ke destinasi berikutnya, saya pun mulai memerhatikan kalau si anak ternyata takut dan ingin ada ayahnya. Pelan-pelan dipegang ponsel saya kemudian berkata, “Ayah”. Si anak minta saya telpon ayahnya.
Namun, karena saya sungkan dan memang sedang dikejar waktu untuk segera menghabiskan menu yang dipesan, akhirnya menelpon ayahnya anak-anak diurungkan. Si kecil tidak menangis tetapi menampakkan wajah kecewa tetapi tidak dilampiaskan dengan tantrum. Cuma wajah yang sepertinya tidak senang dengan keputusan saya menyimpan ponsel ke tas lagi.
Puncak kekecewaan dan ketakutannya terasa sekali kalau saat di mobil, suhu badannya meningkat. Saya pun berusaha tenang dan mengajaknya ngobrol kalau bepergian sama teman-teman bunda itu menyenangkan. Saya juga sampaikan kalau ayah tidak ikut karena memang tidak ada yang membawa ayahnya.
Selama perjalanan menuju rumah, si kecil tidur meski beberapa kali minta posisi yang enak saja. Saya pun serba salah karena tidak ingin membuat driver juga kesulitan melihat kaca spion sehingga posisi saya harus tetap aman dan nyaman.
Long story short, ketika sampai di rumah. Si anak langsung memeluk ayahnya dan minta ditidurkan. Keesokan harinya si kecil cerita dengan bahasanya bahwa dia takut karena ayah tidak ikut. Saya pun mengingat atau flashback saat akan berangkat dan baru menyadari kalau bukan si ayah yang mengantarkan si kecil masuk ke dalam mobil melainkan kakaknya.
Jadi, memang butuh banyak pendekatan pada si anak jika ingin bepergian tanpa saya atau tanpa ayahnya. Ini untuk meminimalisir anak merasa sendirian, tidak nyaman hingga menjadikannya ketakutan.
***
Well, memang setiap anak punya karakter dan sikap berbeda menghadapi sebuah aktivitas bepergian tetapi tidak lengkap sekeluarga. Untuk itu, perlu untuk menyampaikan briefing agar anak tetap bisa menikmati perjalanan tanpa takut atau cemas berlebihan.