“Bun, menikah itu apa?” Pagi sekali pertanyaan itu sudah terlontar. Saya yang masih menyiapkan bekal untuknya mendadak semacam terhenti. Di benak saya mencoba mencerna dan memastikan kalimat yang terdengar memang “menikah” bukan kata lain.
“Kok, tiba-tiba tanya itu? Habis baca apa?” Tanya saya berusaha pelan meski menebak jawaban si kecil meski samar.
“Aku dengar dari temenku. Katanya ayah sama bunda menikah. Iya ta, Bun?”
Mendengar kalimat ini saya langsung yakin bahwa si kecil sama sekali tidak tahu maknanya tetapi dengar katanya saja. Bahkan menikah itu adalah hal yang pasti dilakukan orang tuanya. Hanya saja si kecil pasti penasaran maksudnya apa.
“Ouh, iya. Kalau ayah sama bunda tidak menikah yaa tidak bisa punya anak secantik kamu.” Jawab saya sedikit ingin membuat suasana menjadi ringan.
“Oh, gitu. Jadi menikah itu ayah sama bunda ada di rumah ini?” Tanyanya lagi penasaran.
“Iya.”
“Kalau aku menikah dengan Mas Rayyan ta Bun?” Kalimat yang dibuatnya langsung membuat saya kaget dan juga mau tertawa. Disangkanya menikah itu berteman dengan lawan jenis sepertinya.
“Kok sama Mas Rayyan? Memangnya Mas Rayyan bilang apa?” Tanya saya lagi dengan tujuan menggali sebanyak apa informasi yang dimiliki si kecil ini.
“Kata temenku, kalau aku sama Mas Rayyan terus itu katanya menikah.” Jawabnya polos sambil berusaha mencari botol air minum yang biasa dibawanya ke sekolah.
“Hmm… tidak begitu Nak. Kalau Shanum dan Mas Rayyan kan berteman. Belum waktunya menikah. Dan tidak harus menikah juga. Kan Shanum dan Mas Rayyan masih belum tahu nanti kalau besar akan seperti apa.
“Kok begitu, Bun?” Si kecil masih protes dan akhirnya saya harus cepat-cepat membereskan bekal supaya ada waktu menjelaskan sejenak supaya memahaminya dengan cara berpikir anak usia balita.
***
Saya pun berusaha tetap tenang. Saya hanya berusaha tidak menjawab dengan marah-marah karena takit si kecil tak mau lagi bertanya. Soalnya pernah saya melakukan kesalahan kemudian minta maaf, baru deh si kecil mau bertanya lagi dengan saya meski hal receh sekali pun.
Jadi, saya menjelaskan seperti ini:
Memperlihatkan Foto Pernikahan
Saya menjelaskan ke anak bahwa menikah itu adalah penampakannya seperti itu. Sebisa mungkin memakai baju adat untuk menghargai kebiasaan keluarga. Kemudian saya memberitahu bahwa menikah itu dengan laki-laki (karena anak saya yang bertanya adalah anak perempuan).
Namun, laki-laki yang seperti apa, itu kembali pada yang namanya jodoh. Jodoh itu rezeki dari Allah. Kalau sudah dikasih sama Allah pasti akan menikah seperti bunda menikah dengan ayah.
Dari foto pernikahan, saya juga memperlihatkan kondisinya seperti apa. Suasananya ramai karena keluarga besar berkumpul. Meski tidak ada acara besar tetapi semua keluarga datang melihat pernikahan itu berlangsung.
Menikah itu Bekerja Sama
Anak saya sudah paham kalau bunda tugasnya apa, ayah tugasnya apa. Kalau melihat perbedaan tugas kami di rumah, si kecil bisa paham. Nah, saya pun menyampaikan bahwa menikah itu bekerja sama. Ayah bunda menikah dan melakukan pekerjaan secara bersama meski pekerjaannya berbeda. Ayah di kantor, ibu di rumah. Kalau pulang, sama-sama duduk dan menceritakan perjalanan seharian berbuat apa saja.
Dari pengertian bekerja sama, si kecil pun paham karena memang secara langsung dan realitanya mereka lihat kerja sama itu ada.
Menikah itu Saling Sayang Satu Sama Lain
Ayah bunda bisa dapatkan anak secantik Shanum karena ayah bunda saling sayang. Jika ada yang sedih, lainnya harus menghibur. Nah, meski realitanya jarang demikian tetapi si kecil selalu lihat bagaimana ketika akan keluar rumah, pulang ke rumah, ayah bunda selalu salim dan pelukan.
Jadi, menikah itu bikin saling sayang sehingga bisa dapatkan anak-anak seperti Shanum dan saudaranya lain.
***
Well, anak bertanya jangan panik dulu. Memang zaman sekarang itu informasi sangat cepat. Anak-anak pun sangat cepat menangkap apa saja yang lewat di depan mata, di telinga kemudian dicerna dan wajar jika ditanyakan. Anak bertanya artinya otaknya bekerja, jadi jangan panik dan tetap pelan-pelan belajar jadi orang tua.