“Bagaimana kita bisa memaafkan ketika tidak mampu menerima peristiwa bahwa hal buruk pernah terjadi?” 

Kalimat yang lebih kurang terlontar dari Coach Naftalia saat mengikuti Parade Inner Child yang diadakan oleh Ruang Pulih dan IIDN. Jujur saja saat menyimak materi ini saya langsung merasa terhakimi. Ya, terhakimi karena kondisi saya memang sedang proses ingin memaafkan tetapi begitu sulit ikhlas itu datang.

Gerutu dalam hati dan air mata yang turun ketika merasakan sakitnya lagi itu terbayang kembali. Padahal harusnya saya merasakan lebih baik karena “ucapan maaf” sudah berkali-kali terlontar di bibir. Namun, ternyata sakit dan sesak itu masih terasa. Ternyata, saya belum sepenuhnya memaafkan.

proses memaafkan dalam ruang pulih dengan kecerdasan emosi

Hal yang harus saya lakukan sebenarnya bukan memaafkan langsung tanpa tahap. Ya, semua berproses dan tidal serta-merta bisa dengan mudah menyembuhkan hati yang terluka meski tak kasat mata, hanya terasa saja.

Menerima Peristiwa yang Menyebabkan Luka

Coach Naftalia yang menjadi narasumber pada sesi parade inner child waktu itu sukses membuat saya kembali bertanya pada diri akan penerimaan seperti apa sebenarnya yang terjadi. Ataukah selama ini saya tidak menerima bahwa peristiwa itu benar terjadi bahkan berharap hanya mimpi.

Penerimaan di sini bukan menerima setiap sakit yang terasa. Bukan itu. Menerima bahwa peristiwa itu terjadi dan tidak berusaha untuk denial. Prosesnya pun tidak mudah mengenai penerimaan ini. Tergantung siapa yang menjalani karena pastinya ada protes dalam diri. Tuhan memberikan peristiwa itu harus diterima karena memang sudah jalannya.

Mengakui Perasaan yang Terjadi

Rasa sakit dan terluka akibat peristiwa yang sudah diterima tersebut harus diakui sebagai langkah inner child therapy selanjutnya.

“Aku marah, kecewa, sakit hati karena perlakuan yang terjadi terhadapku.” 

Bentuk kalimat pengakuan yang bisa muncul ketika ada perlakuan yang menurut kita tidak baik. Hal ini tentu tidak mudah tetapi harus diakui karena menjadi manusia baru dan lebih baik adalah harapan baik.

Memaafkan

Kadang ada orang yang memaafkan tetapi tingkahnya seolah abai. Tertipu dengan kondisi tersebut sering terjadi. Membiarkan masalah muncul dengan diam dan dianggap memaafkan tetapi tidak peduli, itu bukan langkah memaafkan untuk pulih dengan kesehatan jiwa yang baik.

Tubuh itu merekam semua momen yang terjadi. Jadi, jika memaafkan tetapi sebatas di bibir saja akan terasa berbeda dan tidak mampu ditutupi karena reaksi tubuh akan tampak.

Mengampuni

Tahap paling tinggi setelah memaafkan dan ini tahap paling sulit bagi setiap orang karena bisa saja mundur lebih jauh ke waktu diri masih dalam kandungan. Apalagi jika luka terjadi karena orang tua, khususnya mama. Kesadaran diri setelah waktu berlalu dan proses menyembuhkan kesehatan mental akan terwujud dengan perlahan.

***

Well, memaafkan bukan hal mudah tetapi dengan menerima dan mengakui maka bisa sampai pada tahap tersebut. Tidak akan berlangsung seketika, butuh waktu. Kecerdasan emosi yang dimiliki akan menempatkan kita tidak kebablasan dalam menyikapi setiap peristiwa dalam diri.