Ketika Anak Ketahuan Berbohong, Orang Tua Harus Bagaimana?

Ketika Anak Ketahuan Berbohong. Orang Tua Harus Bagaimana?

“Lagi nonton apa?”

“Film kartun.”

Beberapa saat kemudian cek email, banyak pesan masuk dari Youtube yang merupakan komentar dari orang-orang yang dikomenin anak sulung.

“Hmm, katanya film kartun tetapi ternyata nonton Youtube dan dikomentarin.”

“Maaf Buuun. Maaf.”

Suara tangisan anak sulung pecah dan memohon agar ijin memegang ponsel tidak dihanguskan. Saya yang sebenarnya sudah mengingatkan jauh sebelum ini pun jadi merasa kecewa. Anak bohong tuh rasanya bikin kepala saya mau pecah dan dada rasanya sesak. Saya takut sekali. Takut anak saya ke depannya makin sulit berkata jujur.

Kalau sudah seperti ini apa yang harus dilakukan?

Tidak Marah-Marah

Sebenarnya pas ketahuan bohong pertama kali, saya marah besar. Kecewa saya. Pikir saya, semua sudah dicukupkan kebutuhan dan keinginan tetapi kok harus berbohong. Namun, saya memaafkan dan berharap dia tidak melakukannya lagi.

Percuma juga marah-marah karena akan bikin anak kesal. Jika sudah demikian anak jadi benci dan bisa makin tidak terkontrol nantinya.

Ketika Anak Ketahuan Berbohong. Orang Tua Harus Bagaimana?

Jelaskan dengan Pelan Akibat Orang Berbohong

Sembari melakukan aktivitas rumah biasanya, pelan-pelan anak disampaikan bahaya berbohong. Bahkan jika tidak mampu dilakukan sendiri, maka minta bantuan media seperti ustadzah di tempat mengaji, paman dan bibinya atau sederhananya lewat buku.

Jika anak sudah memahami secara terus-menerus bahwa bohong itu tidak baik, maka secara kebiasaan akan menjadikan bohong sebagai perilaku buruk. Tidak akan menjadikan perilaku bohong itu ada pada bagian hidupnya.

Anak akan paham jika berbohong tidak akan memberi manfaat justru mudharat.

Ajak Anak Bicara Jujur Meski Melalui Perantara

Ada kalanya anak takut, cemas atau semisalnya jika mengatakan sesuatu langsung pada orang tua. Nah, anak bisa melakukannya dengan berkirim surat atau melalui orang kepercayaan seperti om dan tante dari ayah/bunda, teman sendiri atau media lainnya.

Hal ini akan mempermudah anak untuk tetap menjaga diri agar selalu berkata jujur meski itu sangat pahit rasanya. Lebih baik jujur daripada bohong yang akan memberikan dampak yang tak selalu baik jika dilakukan.

Selalu Apresiasi Anak Jika Sudah Jujur, Sekecil Apa pun Itu

Apresiasi di sini tidak berupa hadiah selalu. Memberikan peluk hangat, ciuman di kening atau di pipi anak justru akan jauh lebih berkesan. Hal ini akan membuat anak merasa bahwa orang tua sangat berharap yang terbaik pada anaknya.

Orang tua juga menjadi tidak was-was lagi dalam memberikan kesempatan pada anak dalam melakukan apa yang dinginkan. Bahkan orang tua akan dengan mudah memfasilitasi dan mendukung selama anak tidak pernah bohong dengan segala yang ada dalam dirinya.

Luangkan Waktu Menjadi Pendengar Setia

Anak membutuhkan orang tua tak hanya sebagai orang yang melahirkan, memberikan semua kebutuhan dan semisalnya. Namun, anak ingin orang tuanya memahami apa yang sedang dirasakan, dihadapi bahkan yang akan dilakukan. Nah, anak butuh orang tua mendengarkan semuanya setiap hari. Hal ini mencegah anak untuk memiliki waktu menyembunyikan sesuatu dalam dirinya.

Makanya orang tua memang perlu untuk menjadi pendengar, selelah apa pun setiap hari. Jika bukan orang tua yang melakukan ini, apakah rela digantikan orang lain?

***

Well, anak berbohong pasti ada sebab awalnya. Untuk itu, pastikan kita sebagai orang tua selalu mendampingi dan selalu ada ketika anak butuh dan melakukan sesuatu. Selama anak merasa semuanya baik-baik saja, tentu tidak akan berbohong apalagi untuk urusan kecil.

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You May Also Like