Ketika Anak Tak Mau Pulang dari Playground

Ketika Anak Tak Mau Pulang dari Playground

“Enggaaak… enggak mau pulang Buun. Masih mau main ini.”

“Lho, tadi sudah lama banget mainnya. Lihat lho, langit sudah mulai gelap.”

“Tapi aku masih mau main, Bun.”

“Besok lagi ya.”

“Enggak mau. Mau di siniii!”

Lalu si anak pun masuk ke dalam area playground lagi tapi duduk di pojok sambil bersedekap dan wajahnya cemberut.

Adakah yang pernah mengalami hal demikian? Saya sudah entah berapa kali. Kapok? Enggak. Sebab, namanya plyaground memang tempat anak bermain. Lalu, bagaimana kalau terjadi lagi tantrum demikian? Apakah yang saya lakukan?

Hmm… sebenarnya saya juga malas banget kalau menghadapi hal demikian. Saya tuh pengennya anak damai selalu, haha. Kalau diarahin A mereka manut begitu juga lainnya. Namun, itu harapan palsu saja, haha. Sebab setiap anak akan berbeda tingkah lakunya.

Kebetulan anak saya yang suka begini di playground adalah anak kedua. Memang sedikit berbeda dalam karakter dari kakak dan adiknya. Butuh perhatian lebih banyak bahkan harus dibalik keadaannya bahwa dia harus jadi contoh yang baik untuk kakak dan adiknya.

Ketika tantrum di playground, saya pun akan melakukan hal berikut:

Cari Tempat Duduk, Dialog dengan Diri Sendiri

Ini untuk menenangkan diri saya bahwa yang terjadi bukan masalah besar. Saya bisa menghadapinya meski pasangan sedang tidak bersama. Tanya sama diri sendiri, apakah saya lelah? Masih ada waktu berapa lama untuk berada di tempat tersebut? Apakah ada yang harus dikerjakan buru-buru?

Ketika Anak Tak Mau Pulang dari Playground

Jika jawabannya bahwa saya masih punya banyak waktu untuk berada di playground, maka saya memberikan kesempatan kepada anak untuk bermain lagi.

Buat Kesepakatan Berapa Lama

Anak yang tadinya ngambek bisa ditanya, “Memangnya mau main yang mana lagi?” atau “Bunda tunggu berapa lama lagi?”

Nah, si anak akan berpikir bahwa bundanya memberikan ruang tetapi terbatas. Ada waktu yang harus dihargai meski belum bisa diungkapkan dengan kata-kata. Apalagi kalau usianya masih di bawah lima tahun, masih belum mampu berpikir baik.

Jika sudah sepakat misalnya setengah jam lagi, maka setelah setengah jam, anak dipanggil dan mengatakan bahwa waktunya sudah habis. Hal tersebut yang akan membuat anak juga respek sama orang tuanya. Menghargainya karena masih ingin menambah keseruan meski tahu ada batasannya.

Briefing Dulu dari Rumah

“Ah sama saja Bun, meski diberitahu dari rumah pas di lokasi tetap saja ngambek kalau diminta pulang.”

Hmm, sabar ya Bun. Begitulah anak-anak. Belum memahami yang namanya komitmen tetapi dari sini bisa diajari pelan-pelan. Komitmen dibangun sejak dari rumah. Buat saja risikonya jika tidak mengikuti komitmen.

Kalau saya pribadi, tidak akan ke playground beberapa minggu kemudian supaya ada faktor anak kapok melakukan sikap buruk di tempat umum. Memang tidak selamanya berhasil sebab semua harus dilakukan berulang-ulang.

Alihkan dengan Tempat Lain

“Mau main atau mau ikut bunda cari camilan?”

Biasanya anak saya cepat ampuh kalau diajak seperti ini. Maksudnya diajak ke tempat lain karena sifatnya selalu penasaran banget sama apa saja yang baru. Jika saja sudah pernah sebelumnya ke tempat tersebut, orang tua bisa menyebutkan manfaatnya saja di tempat yang lain.

Pastikan juga saat dialihkan ke tempat lain, bunda harus benar-benar sudah membayangkan sebelumnya lokasinya seperti apa. Hal ini untuk mencegah si anak mengatakan orang tuanya berbohong semata dalam membujuk.

***

Well, ketika anak tantrum di playground, jangan sampai anak melukai dirinya dengan lompat dari wahana paling tinggi.

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You May Also Like